SURABAYA– Bertebarannya baliho Imam Nahrawi calon
anggota legislatif (Caleg) DPR RI Dapil Jatim I asal Partai Kebangkitan
Bangsa (PKB) di berbagai sudut kota Surabaya dan Sidoarjo, maupun caleg
PKB lain kembali jadi bahan kampanye politik.
Setelah sebelumnya, politisi Partai Nasional demokrat (NasDem) menyerang PKB, kini giliran politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang melakukan sorotan.
Caleg dapil Jatim I dari PPP, Ahmad Arizal mengatakan, PKB yang sekarang adalah penghianat Gus Dur. Sebab, kata dia, merekalah yang telah melengserkan Gus Dur dari jabatan Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB. "Mereka ini sudah jelas penghianat Gus Dur kok masih beraninya menggunakan nama Gus Dur. Itu namanya politisi tak bermoral," tegas Arizal saat dikonfirmasi, Rabu (25/12).
Terlebih, kata dia, sebelum wafat Gus Dur juga pernah membuat surat yang isinya melarang PKB menggunakan nama Gus Dur untuk berbagai kegiatan partai. "Bukti surat dokumen asli dari Gus Dur itu dibuat setelah beliau dipecat dari PKB dan ditandatangani pada 3 November 2008 silam," ungkap Ahmad Arizal seraya menambahkan, dokumen tersebut saat ini masih disimpan oleh Yenny, puteri almarhum Gus Dur.
Bagaimana dengan alasan Gus Dur sudah menjadi milik bangsa, seperti halnya Soekarno dan Soeharto. Sehingga orang tak perlu izin jika ingin memasang foto mereka? Dengan lugas, Arizal menyatakan tidak setuju karena almarhum masih memiliki keluarga yakni isteri dan anak, sehingga sudah sepatutnya meminta ijin dulu sebelum menggunakan foto Gus Dur untuk kepentingan tertentu.
Gusdurian juga tidak terima kalau PKB saat ini selalu menggunakan nama Gus Dur dan mengaku penerus perjuangan Gus Dur. "Ingat penerus perjuangan Gus Dur itu Gusdurian bukan PKB sekarang yang notabene penghianat Gus Dur," beber Arizal.
PKB sekarang itu, kata dia, tak lebih dari para penghianat Gus Dur, karena ketika pihak keluarga minta agar Gus Dur dikembalikan menjadi Ketua Umum Dewan Syuro tapi kenyataannya mereka malah menunjuk KH. Aziz Mansyur sebagai pengganti Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB.
Sebelumnya, Sekjen DPP PKB, Imam Nakrowi ketika dikonfirmasi soal banyaknya pengerusakan baliho miliknya yang ditenggarai akibat mencantumkan foto Gus Dur dan kalimat PKB Penerus Perjuangan Gus Dur, menyatakan rasa terima kasih adanya aksi pengrusakan balihonya. "Terima kasih kepada orang yang mengotaki dan orang yang disuruh merusak baliho saya, semoga hatinya disadarkan oleh Allah dan semoga kehidupan dunia dan akhiratnya selalu selamat, tenang dan tetap ada rasa cinta kepada keluarganya," ujar Nahrawi beberapa waktu lalu
Pada kesempatan lain, Imam Nahrawi juga menyesalkan perobekan gambar Gus Dur pada baliho. "Waduh kok gambarnya Gus Dur yang dirobek. Nggak elok merobek gambarnya Gus Dur. Mestinya gambar saya saja yang dirobek," ujarnya.
Namun begitu, dia mengaku tidak mempermasalahkan perobekan baliho pencalegannya. Namun, yang sangat disayangkan adalah gambar foto Gus Dur yang dirobek orang tak dikenalnya. "Orang kan masih banyak rindu Gus Dur. Kenapa yang dirobek gambarnya Gus Dur. Wah berarti ini ada yang nggak beres," lanjut dia.
Di Pemilu 2014 mendatang, Imam jadi caleg nomor urut 1 di dapil Jatim I yang meliputi Surabaya-Sidoarjo. Di baliho yang terlihat di Jl Tambaksari, Surabaya, Jatim, Imam tampak mengenakan kemeja lengan panjang putih plus peci hitam. Di sebelah kiri atas baliho berikuran 3x2 meter itu terpampang foto Gus Dur mengenakan batik cokelat. Di bawah foto Gus Dur tertulis tagline Penerus Perjuangan Gus Dur.
Secara terpisah, Sekretaris DPW PKB Jatim, Thoriqul Haq mengaku, sudah mendapat laporan baliho salah satu caleg PKB di Malang, Hj Lathifah Shohib yang juga masih keponakan Gus Dur dirusak oleh orang tak dikenal.
Kendati demikian, pihaknya enggan berkomentar apalagi menuduh seseorang atau kelompok tertentu karena hal itu bisa memperuncing masalah. "Biarkan saja, nanti juga akan berhenti sendiri," terang pria yang juga Ketua Komisi C DPRD Jatim ini.
Diakui Thoriq, ada sebagian caleg PKB yang sudah meminta izin kepada Yenny untuk memasang foto Gus Dur karena mereka adalah santri ideologi dan pengagum Gus Dur, seperti yang dilakukan Moh Thoha. Namun sayangnya, puteri bungsu KH Abdurrahman Wahid itu tidak mengiyakan atau menolak.
"Bagaimanapun PKB itu tidak bisa dipisahkan dengan Gus Dur karena sejarah mencatat PKB itu didirikan oleh Gus Dur bersama para kiai khos yang lain. Jadi kami yang muda-muda saat ini secara otomatis merupakan penerus ideologi Gus Dur," jelas politisi asli Lumajang ini.
Menurutnya, jika Gusdurian mewajibkan caleg PKB lapor atau izin sebelum memasang foto atau tulisan Gus Dur itu justru di luar tradisi NU. Sebab, nama KH Hasyim Asy'ari maupun Wahid Hasyim yang menjadi nama lembaga pendidikan di berbagai daerah juga tidak ada yang izin karena itu bagian dari penghormatan terhadap tokoh yang mereka idolakan. "Kantor DPC PKB Jombang dinamai Graha Gus Dur itu bagian dari penghormatan terhadap tokoh idola NU dan PKB," tambah Thoriqul Haq.
Disinggung apakah akan melaporkan pengerusakan baliho caleg PKB kepada Panwaslu, Bawaslu atau aparat kepolisian? Dengan lugas Thoriq menyatakan tidak karena itu akan memperuncing masalah baru. "Kami tidak akan lapor, tapi itu sudah menjadi tugas dan kewajiban dari pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap jalannya tahapan Pileg," pungkasnya.
"Segera Tarik Alat Peraga!"
Koordinator Gusdurian (pecinta Gus Dur) Jawa Timur, Aan Anshori, mengimbau kepada calon legislatif (caleg) maupun partai politik (parpol) agar lebih mengedepankan prinsip etis dengan cara tidak sembarangan mencantumkan gambar/tulisan/video KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur untuk tujuan politik praktis tanpa izin tertulis dari keluarga Ciganjur. Yakni istri Gus Dur, Sinta Nuriyah dan putri-putrinya.
"Yang sudah terlanjur memvisualisasikan hal-hal yang berkaitan dengan sosok Gus Dur untuk kepentingan politik praktis tanpa seizin keluarga Ciganjur dalam alat peraga kampanyenya agar segera menarik alat peraga tersebut," ujar Aan Anshori, dalam release via BBM (blackberry massanger) kepada Surabaya Pagi.
Aan, begitu ia disapa juga mengatakan, momentum politik pemilu legislatif (pileg) di tahun 2014 yang semakin dekat ini, membuat sejumlah partai dan caleg terus berlomba-lomba melakukan pencitraan untuk menarik simpati publik. Berbagai cara dan upaya dilakukan para caleg untuk mendongkrak elektabilitas di hadapan pemilih. Salah satunya, memasang baliho dan banner dengan menempelkan tokoh yang dikenal publik seperti Gus Dur.
"Ekspose sosok Gus Dur untuk tujuan politik praktis tanpa disertai izin tertulis dari keluarga Ciganjur dapat dianggap sebagai sebuah tindak pidana," terangnya.
Lebih lanjut Aan mengatakan, pihaknya menginstruksikan kepada seluruh anggota Jaringan Gusdurian di Jawa Timur untuk terus melakukan pemantauan. Namun begitu, kata dia, tetap mengedepankan pada cara-cara yang baik (ma'ruf) serta tunduk pada ketentuan hukum yang berlaku.
Pengen Lungguh Kursi Koq Make Diterne
Sementara itu Nihrul Bahi Al Haidar atau yang akrab di panggil Gus Irul mengatakan PKB dalam keadaan takut dan tidak pede dalam menghadapi Pemilu 2014, apalagi kaitannya dengan ambang batas parlemen atau Parlementary Treshold sebesar 3,5 persen, sehingga PKB berupaya semaksimal mungkin meraup suara warga Nahdliyin terutama pengagum Gus Dur.
Sebagai Caleg DPRD Lamongan yang berangkat dari PPP Gus Irul menambahkan, Padahal seperti kita ketahui Muhaimin adalah keponakan yang merebut PKB dari Gus Dur yang juga masih Pamannya sendiri, sungguh ironis sekali. Imbuhnya.
Memang tidak ada larangan dalam Undang-undang (UU) Pemilu untuk menggunakan gambar Gus Dur sebagai alat kampanye beberapa partai politik. Sebab, Gus Dur sama halnya seperti Bung Karno dan tokoh nasional lainnya yang menjadi inspirator ide dan gagasan dari para caleg dan parpol yang akan bertarung di setiap pemilu.
"Dilihat dari sisi UU tidak ada yang dilanggar. Kalau gambar Gus Dur sama halnya seperti tokoh lain seperti Bung Karno.Tapi yang jelas bukan moral politik yang dibangun, dan ini akan merugikan PKB sendiri." tambah Gus Irul.
"Kalau berani berjuang dalam politik mari kita sama-sama membawa pribadi kita masing-masing untuk bertarung dengan mengedepankan visi misi kita sebagai caleg, jangan lantas mengenyampingkan moral politik kita, lagian kan biasanya gambar yang ada itu Ketua Umunya beserta Caleg, mengapa gak naruh gambar Muhaimin aja di sana, kan ketua Umumnya beliau, hehe...pengen lungguh kursi koq make diterne (ingin duduk dikursi koq masih diantar)", ujar beliau sekaligus mengakhiri perbincangannya..
Am



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !